Drymoglossum

Drymoglossum

Karateristik dari genus ini adalah rimpang panjang merayap, ramping, bersisik dengan sisik peltate. Daun dimorfik. Daun Steril berbentuk bulat sampai lonjong, bulat di pucuk, bulat lonjong pada pangkal daun, batangnya pendek. Daun fertil linier, bulat di puncak, secara bertahap menyempit ke bawah: vena anastomosing sampai membentuk areoles dengan sederhana atau bercabang termasuk veinlets: kedua permukaan Lamine jarang seperti bintang dan berbulu. Sori berbentuk linier, di sepanjang alur longitudinal tepi daun (Tagawa, 1989:12)
Drymoglossum merupakan derivat dari pyrossia sepanjang perjalanan paralel dengan yang lemmaphyllum dari pleopeltis. Kecuali untuk daun fertil dengan sori marjinal linear memanjang. Di antara setengah lusin spesies yang dikenal di worldtropics lama, hanya satu telah ditemukan di Thailand (Tagawa, 1989:13)
Beberapa species dari genus ini adalah Drymoglossum abbreviatum FéeMém. Foug., 7. Ic. Esp. Nouv. 26 (-27; tab. 10, fig. 2) 1857, Drymoglossum acrostichoides (Hook. & Grev.) T. MooreIndex Fil. xxxi xxxi 1857, Drymoglossum amoenum ChingSporae Pterid. Sin. 350, pl. 76, f. 4, 7-9 350 1976, Drymoglossum obovatum var. lutchuense NakaiBot. Mag. (Tokyo) 40(475): 396 396 1926, Drymoglossum piloselloides (L.) C. PreslTent. Pterid. 227, pl. 10, f. 5-6 227 1836, Drymoglossum piloselloides var. platycerioides Z. TeruyaActa Phytotax. Geobot. 1(2): 199-200 199 1932, Drymoglossum rigidum Hook.Cent. Ferns , t 96 1854, dan Drymoglossum rotundifolium C. PreslAbh. Königl. Böhm. Ges. Wiss., ser. 5 6: 517 517 1851.
Hovenkamp (1986:305) mengatakan bahwa species yang berkembang sangat baik adalah Drymoglossum piloselloides (L.) C. PreslTent.

Drymoglossum piloselloides (L.) C. PreslTent
Drymoglossum piloselloides (L.) C. PreslTent atau Sisik naga merupakan tumbuhan epifit,(tumbuhan yang menumpang pada tumbuhan lain), namun bukan parasit karena dapat membuat makanan senidri. Sehingga dpat diperbanyak dengan spora dan pemisahan akar (Dalimartha, 2008:47)

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Polypodiaceae
Genus: Drymoglossum
Spesies: Drymoglossum piloselloides (L.) Presl.

Morfologi
Heyne (1987) dalam Hetti (2008:3) mengatakan bahwa Sisik naga merupakan tumbuh-tumbuhan epifit kecil dengan akar rimpang tipis, merayap jauh. Daun satu sama lain tumbuh pada jarak yang pendek, tangkai pendek, tidak terbagi, pinggir utuh, berdaging atau seperti kulit, permukaan buah tidak berbulu sama sekali atau sedikit. Tumbuh-tumbuhan ini tersebar di seluruh Asia Tropik, di daerah dengan musim kering yang banyak hujan, dari daerah datar 3 xxi hingga ± 1000 m di atas permukaan laut, tumbuh secara umum pada batang, dahan pohon dan perdu yang daunnya tidak begitu lebat.
Tumbuhan ini berasal dari Malay sampai India dan China ( Hainan)(Hoshizaki, 2002: 486). Menurut Hew (1984:37) tumbuhan ini termasuk tumbuhan CAM. Tanaman (Crassulacean Acid Metabolism) Adaptasi terhadap intensitas cahaya tinggi , stomata menutup siang hari dan membuka malam hari. Pengambilan CO2 pada malam hari untuk disintesis menjadi asam krassulasen. Pada siang hari setelah reaksi terang menghasilkan ATP dan NADH , CO2 dilepas dari asam krassulasen untuk dimasukkan ke siklus Calvin. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Mehltreter (2010:163), “ tumbuhan ini termasuk tumbuhan CAM yang mengambil CO2 secara dominan pada malam hari dengan menggunakan PEP-C”.

Rimpang merayap panjang, diameter sekitar 1 mm, daun bantalan 1,5-4 terpisah, bersisik padat di seluruh: skala kecil, lonjong bulat telur, tak beraturan bergigi, sampai dengan 1 mm panjang dan lebarnya, pucat coklat tua di bagian tengah, di tepi. Stipe sangat pendek, yang beberapa milimeter panjang. Daun dimorfik.

       (Hooker,1954)

Sori linier, sangat memanjang, terus menerus, jarang terputus, kurang lebih tenggelam dalam lekukan atau sulkus dan kurang lebih jauh dari pinggir. Penutup tidak ada. Vena berbagai anastomosing, areoles dengan atau tanpa veinlets bebas .- kebanyakan daun seragam, sederhana atau pinnated atau subdichotomously pinnatifid, biasanya costate. ( Hooker, 1954)
Daun dapat terlepas dari rimpang, tunggal, yang fertil amat berbeda bentuknya. Urat-urat daun bebas atau bersambungan dengan urat tepi atau pita yang jernih atau kekuningan yang berjalan sepanjang tepi daun. Rimpang merayap. Epifit atau kremnofit. (Gembong, 2005: 295)

Daun steril dengan stipites mereka, dan juga khusus dalam menjadi sangat sempit dan sangat tebal (hampir semiterete), memiliki alur yang mendalam di setiap sisi costa, di mana yang sori yang tenggelam. Vena beranastomosis, tetapi areoles tidak appendiculate ( Hooker, 1954)
Dalam daun sterille spesies ini berbeda dari nummulariofolia pyrrosia. Dalam daun berbulu kurang dengan tekstur seperti kulit dan oblong sampai lanset scaes rimpang dengan marjin fimbriate (Tagawa, 1989:12)

sistem reproduksi

Memiliki akar rimpang panjang, kecil, merayap, bersisik, panjang 5-22 cm, dan akar melekat kuat pada inangnya. Bersifat homospora / isospora (hanya menghasilkan satu macam spora), terletak pada sorrus di bawah daun. spora yang jatuh berkembang menjadi prothalus yang mengandung organ kelamin jantan atau betina, sehingga dalam fertilisasinya perlu air (lingkungan yang basah), agar sperma bersilia dapat berenang menuju sel telur, karena itu tumbuhan paku banyak hidup di habitat basah. penyebaran spora ke tempat-tempat baru dengan bantuan angin. punya batang di bawah tanah (rhizome) yang berakar dan batang di atas tanah (tegakan / shoot) (Hajjah, 2009)

Kandungan
Hasil penelitian mcnujukkan bahwa ekstrak daun D. heterophyllum C.Chr. mcmpunyai aktivitas menghambat pertumbuhan E. coli dan S. aurcus. Aktivitas hambat tcrhadap E. coli ditunjukkan oleh ekstrak alkohol sedangkan aktivitas hambat terhadap S. aureus ditunjtikkan oleh ekstrak alkohol dan ekstrak air. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dalam ekstrak petroleum eter mcngandung paling scdikit cnam scnyawa sterol/tritcrpcn, Ekstrak alkohol mcngandung paling scdikit satu senyawa sterol/triterpen, empat senyawa fenol, lima senyawa flavonoid, dua senyawa tanin dan satu scnyawa gula. Ekstrak air mcngandung paling scdikit satu scnyawa fcnol, cmpat senyawa flavonoid. dua senyawa tanin dan satu senyawa gula. Selain kandungan kimia tersebut dalam daun D. heterophyttwii C.Chr. juga mcngandung paling scdikit sembilan senyawa minyak atsiri (Susilowati, 1988: 127)

Kegunaan
Kegunaan/indikasi: mengobati kanker payudara, untuk TBC kelenjar gondongan (parotitis), batuk darah, keputihan, kencing nanah, keputihan, reumatik, sakit kuning dan sariawan. Sifat kimiawi dan efek farmokologi: sedikit manis, tawar dan sejuk. Berkhasiat sebagai anti radang (ant-iniflamasi), anti toksik, peluruh dahak(ekspetoran) dan menghentikan perdarahan(hemostatik) Dosis pemakaian: 15-30 g daun atau seluruh herba direbus dengan 600cc air hingga tersisa 200 cc, disaring kemudian airnya diminum (Wijayakusuma, 2008: )

contoh pemakaian:

–    Menghentikan pendarahan, cuci daun sisik naga segar30 g, lalu giling sampai halus, lalu peres dan saring. Minum airnya 3 kali sehari sampai sembuh.

–     Sakit kuning, Cuci daun sisik naga segar (15-30 gram) sampai bersih, lalu rebus dengan 3 gelas air samapi air tersisa separuhnya. Setelah dingin, saring dan minum airnya 3 kali sehari masing-masing ½ gelas (Dalimartha, 2008:47)

Daftar pustaka
Dalimartha, setiawan. 2008. Tanaman obat di lingkungan sekitar. Jakarta: Puspa Swara
Gembong, Tjitrosoepomo. 2005.  Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press Hajjah. 2009. Drymoglossum piloselloides. http://jhajjah.blogspot.com/2009/12/drymoglossum-piloselloides_11.hml
Hoshizaki, Barbara Joe dan Robbin Craig Moran. 2002. Fern grower’s manual. USA: Timber Press.
Hetti, Deni. 2008. UJI SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL 70% HERBA SISIK NAGA (Drymoglossum piloselloides Presl.) TERHADAP SEL T47D. Skripsi diterbitkan. Surakarta: Fakultas Farmasi Muhamadiyah Surakarta.
Hew, C. S. 1984. Drymoglossum under Water Stress. American Fern Journal Vol. 74, No. 2 (Apr. – Jun., ), pp. 37-39
Hooker,Sir William Jackson . 1954. Hooker’s Icones plantarum, Volume 10. London: wiliam pamplin 45 street
Hovenkamp, P. 1986. A monograph of the fern genus Pyrrosia (Polypodiaceae). Leiden: Leiden University press.
Mehltreter, Klaus Lawrence. 2010. Fern Ecology. New York: Cambridge University Press. Susilowati, L. Nuraini. 1988. DRYMOGLOSSUM HETEROPHYLUJM C. CHR. Daya antibakteri daun Drymoghsswn heterophyllum C.Chr.(pakis duwitan) terhadap Escherichia coli dan Streptococcus aureus serta skrining fttokimianya.FF UGlVf(No.171)
Tagawa, M dan K. Iwatsuki. 1989. Flora of Thailand- Vol.3-Part 4. Bangkok: Chutima Press.
Wijayakusuma, Hembing. 2008. Atasi kenker dengan tanaman obat. Jakarta: puspa swara.

Litchi chinensis Sonn


Litchi chinensis Sonn

leci

Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Litchi
Spesies: Litchi chinensis Sonn

Deskripsi
Daun


Leci memiliki daun yang menyirip dan merupakan daun majemuk menyirip genap (abrute pinnatus). Menurut Tjitrosoepomo (2007), biasanya pada daun menyirip genap terdapat sejumlah anak daun yang berpasang-pasangan di kanan dan kiri ibu tulang daun, oleh sebab itu biasanya lalu menjadi genap.
Daun tanaman leci berupa daun majemuk, dengan bentuk lonjong atau elips seperti daun kelengkeng namun agak keriting. Helaian daun terletak hampir berhadapan, berjajar pada tangkai daun dengan jumlah 2-8, berwarna hijau dan agak lemas. Tulang daun berwarna coklat kehijauan sampai coklat, ujung daun runcing dan tepi daun halus(Rukmana,2004).
Pada saat daun masih muda wana daunnya kemerarahan dan setelah agak tua daunnya berwarana hijau mengkilap dan cerah. Pohon leci ini memiliki dedaunan penuh dan bercabang-cabang.

Bunga
Mahkota bunga leci ini kecil,dan bunga berwarna hijau kekuningan. Bunga ini memiliki ranting tebal, bunga dengan 7-11 benang sari dalam kelompok tetap, buah halus dengan tonjolan sampai dengan 1 mm. Merupakan bunga majemuk dengan bentuk malai. Menurut Tjitrosoepomo (2007), dalam golongan malai ibu tangkainya mengadakan percabangan secara monopodial, demikian pula cabang-cabangnya.
Panjang bunga inikurang lebih dapat mencapai 30cm danmuncul atau tumbuh pada terminalis(ujung). Bunga Leci adalah pemandangan yang indah di musim semi ketika begitu banyak bunga menghiasi pohon. Berbunga jatuh tempo mendahului buah oleh sekitar 140 hari.
Bunga tanaman leci termasuk bunga majemuk yang tersusun dalam tangkai (tandan). Tangkai bunga pangjangnya 6,5-30 cm tumbuh pada pucuk cabang dan keluar dari ketiak daun. Tiap tangkai bunga berisi ratusan bunga kecil yang berwarna putih atau kekuning-kuningan. Pada saat mekar aroma bunga kurang enak. Bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu malai. Prosentase penyerbukan termasuk kategori sedang sampai tinggi karena dipengaruhi atau dibantu oleh serangga dan angin. Dari satu bunga dapat dihasilkan 1-40 butir buah dewasa(Rukmana,2004).
Buah dan biji


Buah leci tersusun dalam dompolan seperti rambutan. Bentuk buah bulat telur sampai bulat lonjong dengan kulit luar yang tipis. Permukaan kulitnya kasar, tidak berbulu, tetapi seperti terdapat sisa rambut. Sewaktu masih muda kulit berwarna hijaus etelah masak berwarna merah cerah bercampur unggu yang sepintas mirip stoberi. Bagian yang dimakan atau arilus(salut biji) yaitu bagian kulit dalam (endotesta) yang biasanya berasaldari pertumbuhan tali pusar berwarna putih, transparan,dan tebal. Rasanya manis, harum dan lezat. Di dalam arilus terdapat biji yang ukurannya bervariasi.
Varietas yang paling diinginkan mengandung biji atrophia yang disebut “lidah ayam”. Mereka sangat kecil, hingga 1 / 2 inci panjangnya benih yang lebih besar bervariasi antara 1 / 2 sampai 1 inci panjang dan gemuk daripada lidah ayam. Ada juga perbedaan antara Lychee bahwa kebocoran jus saat kulit rusak dan “kering dan bersih” varietas yang lebih diinginkan. Di beberapa daerah leci cenderung pembawa alternatif. Buah membelah biasanya disebabkan oleh fluktuasi tingkat kelembaban tanah(Anonymous,2010).
Daging buah leci dan biji leci mirip dengan lengkeng. Daging buah tebal berwarna putih transparan,berair, beraroma khas(spesifik), berasa manis masam tapi enak dan menyegarkan. Keharuman buah leci menjadi ciri khas tersendiri. Buah leci terdiri atas tiga bagian yaitu kulit 9,6%, daging buah 78,2%, dan biji 15,9%(Rukmana,2004).
Biji leci berbentuk oval juga dengan warna coklat tua dan hampir sama dengan lengkeng. Tanaman leci merupakan berkeping dua. Dapat dilihat dari jumlah daun lembaga pada biji yang merupakan salah satu ciri yang penting dalam mengadakan tumbuhan biji. Menurut Tjitrosoepomo(2007), tumbuhan yang bijinya mempunyai lembaga dengan dua daun lembaga merupakan suatu golongan yang disebut tumbuhan berbiji belah(Dicotyledoneae). Pada gambar disamping terlihat akar lembaga yang mulai tumbuh.

Manfaat
Hal yang sangat menarik perhatian dari komposisi mineral leci adalah perbandingan antara potasium (K) dan sodium (Na) yang sangat tinggi, yaitu 171:1. Hal ini tentu sangat menguntungkan karena makanan olahan yang kita konsumsi sehari-hari umumnya mengandung Na tinggi, tetapi sangat rendah K. Kalium (disebut juga sebagai potasium) sangat berperan penting dalam meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat gizi lainnya ke sel-sel tubuh, mengendalikan keseimbangan cairan pada jaringan sel tubuh, serta menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Daftar Pustaka
Anonymous.2010.http:// plantamor.com. diakses tanggal 29 Desember 2010
Anonymous.2010.http://www.crfg.org/pubs/ff/lychee.html. diakses tanggal 29 Desember 2010
Anonymous.2010.http://phiets.wordpress.com/2009/06/06/budidaya-leci/ diakses tanggal 29 Desember 2010
Rukmana Rahmat.2004. Seri Budi Daya LECI; Potensi dan Peluang Agrobisnis. Yogyakarta: Kanisius
Tjitrosoepomo, Gembong .2007. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.